Memasuki tahun ke-2 berdirinya Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (PBJ UMY), maka PBJ UMY mengadakan Milad ke-2. Milad yang ke-2 ini berbeda dengan Milad sebelumnya, pada Milad ke-2 ini dosen PBJ mempresentasikan hasil penelitian terkait dengan fonologi dan sosiolinguistik pada mahasiswa PBJ. Penelitian ini juga digunakan untuk memberi masukan dalam proses pengajaran di PBJ UMY. Selain itu penelitian ini juga berguna untuk menambah wawasan kepada mahasiswa tentang budaya Jepang dan pelafalan bahasa Jepang.

Penelitian ini dibuat oleh empat dosen PBJ yaitu, Rosi Roasiah, S. Pd, Sonda Sanjaya, S. S, M. Pd, Thamita Islmi Indraswari, S. S, M. Pd, dan Yuli Wahyuni, S. Pd, M. Pd. Penelitian ini juga didukung dan dibantu oleh mahasiswa. “Dalam melakukan penelitian ini, keempat dosen tersebut menggunakan sample mahasiswa PBJ semester 1,” jelas Ikhwanul Muslimin, selaku ketua panitia saat ditemui pada pembukaan Milad ke-2, Sabtu (27/12) di Unires Putri UMY.

Dalam penelitian ini, ada dua fokus yang dikaji oleh para dosen PBJ UMY, yakni Fonologi dan Sosioliguistik. Pada aspek Fonologi penelitiannya dititik beratkan pada pelafalan bahasa Jepang, karena terkadang pelafalan yang di ucapkan oleh orang Indonesia dengan orang Jepang berbeda. Jika hal ini terus terjadi dan tidak segera dibenahi maka akan menyusahkan lawan bicaranya, apalagi ketika kita berbicara dengan orang Jepang. Selain itu ketika kita sudah terbiasa menggunakan bahasa Jepang dengan salah, maka akan sulit untuk memperbaikinya. Jadi lebih baik pelafalan dalam menggunakan bahasa Jepang diperbaiki sedini mungkin.

Pada penelitian yang terkait dengan Fonologi ini, Yuli Wahyuni, S. Pd, M. Pd dan Rosi Roasiah, S. Pd menggunakan sistem pengajaran Shadowing. Pengajaran Shadowing adalah bagaimana mahasiswa dapat menyimak proses pengolahan di tingkat mikro yang diaktifkan. Ada tiga model shadowing yang telah diterapkan antara lain adalah complete shadowing (penyimak menirukan segala sesuatu yang diucapkan oleh pembicara), selective shadowing (penyimak menyeleksi kata atau frasa yang penting untuk ditirukan), dan interactive shadowing (penyimak diberikan pertanyaan dan memberikan komentar, sehingga pembelajaran dua arah terwujud).

Di beberapa kesempatan yang sama Rosi Roasiah, S. Pd mengatakan bahwa sample yang diambil adalah mahasiswa semester 1 PBJ sebanyak 48 mahasiswa. “Dalam proses penelitian ini kami melakukan eksperimen sebanyak 10 kali dalam waktu 30 menit. Nantinya, mahasiswa akan mendengarkan audio dan membayangi audio. Ada 20 kosa kata yang akan diberikan pada mahasiswa, masing-masing terdiri dari 10 kosa kata Hiragana dan 10 kosa kata Katakana setiap pertemuannya, “ jelasnya.

Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa, pelafalan yang mudah dikuasai merupakan kosa kata yang sebagian besar telah diketahui mahasiswa dan memiliki ciri pelafalan yang sama dengan kosa kata bahasa Indonesia. sedangkan, pelafalan yang sulit dikuasai merupakan kosa kata yang baru diketahui dan mempunyai pelafalan yang berbeda dengan kosa kata bahasa Indonesia. “Banyak kosa kata yang artinya beda, namun terkadang dianggap mahasiswa sama,” jelas Yuli Wahyuni, S. Pd, M. Pd.

Selain penelitian terkait dengan Fonologi, Sonda Sanjaya, S. S, M. Pd dan Thamita Islmi Indraswari, S. S, M. Pd juga melakukan penelitian terkait dengan sosiolinguistik. Sosiolinguistik ini lebih fokus pada bagaimana kita bisa mengenal kebudayaan dan tingkah laku orang Jepang sendiri. “Kebiasaan orang Jepang pasti berbeda dengan orang Indonesia, hal ini bisa dilihat dari tingkah laku orang Jepang dalam melakukan sesuatu. Misalnya ketika orang Jepang meminta tolong maka ada penggunaan bahasa yang berbeda agar kalimat yang diucapkan tidak terkesan seperti menyuruh,” papar Sonda Sanjaya, S. S, M. Pd.

Dalam penelitian ini Sonda Sanjaya, S. S, M. Pd dan Thamita Islmi Indraswari, S. S, M. Pd melihat sejauh mana mahasiswa bisa mengerti tingkah laku dan kebiasaan orang Jepang. Misalnya, ketika antar mahasiswa meminjam atau mengmbalikkan sebuah buku. Dari kebiasaan tersebut akan terlihat bagaimana mahasiswa mengaplikasikan kebiasaan orang Jepang. “Hasilnya adalah fifty-fifty masih ada beberapa mahasiswa yang belum memahami kebiasaan orang Jepang dalam bertingkah laku,” ujar Thamita.

Selain mengadakan seminar atau mempresentasikan hasil penelitian, dalam Milad ini juga akan menampilkan hiburan yang akan diselenggarakan pada malam harinya pukul 18.00 dari beberapa organisasi yang ada di Himpunan Mahasiswa Jurusan PBJ Nikigakka (Nihon Go Kyoiku Gakusei Kai). “Organisasi yang akan perform adalah dari Ongaku kai (Club Music), Odori Kai (Club Dance), Ryori Kai (Club Cook), dan Shuji Kai (Club Caligrafi). Selain itu nanti para dosen juga akan menceritakan tentang sejarah berdirinya PBJ di UMY, “ papar Ikhwanul Muslimin lagi.

Ikhwanul juga berhapap setalah Milad ini mahasiswa bisa lebih mengetahui dan memahami perbedaan sosiolinguistik dan fonologi di Jepang. Selain itu ia juga berharap agar PBJ lebih bisa dikenal lagi oleh masyarakat luas. “Ini sesuai dengan tema yang diambil dalam Milad ke-2 yaitu Utsukushiku Kagayaku yang artinya Indah dan Bersinar, dan Milad ke-2 ini juga bisa dijadikan promosi bagi PBJ UMY sendiri,” imbuhnya.

sumber . www,umy.ac.id